Sabtu, 11 Agustus 2012

PENDIDIKAN BERKARAKTER

Pendikar?? Yeaachh Pendidikan berkarakter!!! Konsep baru dalam dunia pendidikan kita. Jangan merasa aneh, bingung, antipati, atau bahkan mencaci-maki. Kita buka -buka dulu kenapa Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional mencanangkan konsep Pendikar, atau Pendidikan Berkarakter bagi seluruh sekolah di indonesia.
Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kenapa Pendikar???
Setelah kita mengalami proses reformasi besar - besaran pada tahun 1997 dihampir semua bidang sendi kehidupan, pendidikan mengalami penurunan khususnya dalam pemantapan karakter bangsa Indonesia. Jati diri dan karakter berbangsa semakin memudar. Sebagian " para ahli " berpendapat bahwa pudarnya karakter berbangsa dan jati diri bangsa disebabkan oleh antara lain:
1. Kurangnya Keteladanan. 
   Dunia pendidikan mengalami penurunan keteladanan yang ditunjukkan atapun dicontohkan oleh para pendidik. Kita mungkin tidak menyadarinya bahwa secara langsung maupun tidak langsung, keberadaan kita sebagai pendidik selalu menjadi perhatian. Banyak para pendidik yang mulai enggan membagi ilmunya kepada peserta didik secara maksimal, sering terlambat mengajar, suka meninggalkan kelas selama pelajaran, atau sms_an / BBM ketika sedang proses belajar berlangsung. Hal - hal seperti inilah yang direkam oleh peserta didik dan disimpulkan secara sederhana oleh mereka; " Wah,... jamnya Pak Fulan,, pasti KTSP= Kasih Teori Siap-siap Pergi."
2. Media yang kurang mendidik
    Jebolnya era reformasi menjadikan semua berpikiran bahwa apapun berhak dan bisa. Banyak sekali bermunculan media - media atau program - program penyiaran yang tidak layak konsumsi. (Junk Programs). Coba kita perhatikan; jika kita sempat melihat sinetron remaja bertema sekolah, yang menjadi konflik bukanlah cara pemecahan masalah belajar, tapi malah percintaan 'ecek - ecek', genk remaja, fitnah - fitnahan, pamer kekayaan, pamer seragam rok mini, atau bahkan ditunjukkan anak remaja yang nge'Drug'. Inilah yang menjadi tuntunan para remaja sekarang. Produsen tidak peduli, karena rating tinggi, untung besar. Moral??? bukan urusan. lo ga' suka jangan ditonton!! Kenapa para pembuat program tidak mau membuat program yang lebih menantang, misalnya, menampilkan keseharian para genius kita yang mau ngikut olimpiade pelajaran, trus...disitu diberikan gambaran - gambaran cara memecahkan suatu masalah yang dikemas secara menarik dan bergaya remaja, pasti... akan lebih seru!!! Lihat sinetron tapi dapat ilmu cara memecahkan masalah belajar. Bukan cara memecahkan masalah percintaan, cara mengalahkan musuh dalam kelas, atau cara mempermalukan gurunya. Setuju????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar